Resensi Buku : Menuju Jama’atul Muslimin

Resensi Buku : Menuju Jama’atul Muslimin
Buah Karya : Syekh Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, M.A

Setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah th 1924 M/1345 H, umat Islam spt kehilangan jati diri & merupakan klimaks kemerosotan peran politik Islam. Periodisasi perjalanan sejarah umat Islam telah dijelaskan Rasulullah SAW (hadits diriwayatkan Imam Ahmad dan Baihaqi), beberapa Periode :
1. Nubuwwah : masa dimana umat Islam hidup bersama Rasulullah SAW.
2. Khilafah : atas minhaj Nubuwwah–masa Khulafaur Rasyidin (+/- 30 Th)
3. Mulkan ‘Adhon : masa para penguasa menindas, meski sistem pemerintahan berlandaskan Islam (sejak berakhirnya Khulafaur Rasyidin s/d berakhirnya Kesultanan Utsmaniyah-hidup para raja dari berbagai dinasti terutama Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyyah)
4. Mulkan Jabbariyyah : masa dimana Muslimin hidup dlm sistem penguasa/ raja-raja sekuler.
5. Khilafah ‘ala Manhaj Nubuwwah.

Optimisme kebangkitan Islam berkaitan dengan potensi Kaum Muslimin, yakni :
a. Potensi Syari’ah Islam, terpelihara orisinalitasnya dan sesuai fitrah manusia,
b. Potensi Penduduk Muslim (+/- ¼ Milyar Jiwa / Seperlima penduduk dunia),
c. Potensi Sumber Daya Alam,sumber minyak bumi & mineral banyak dinegara Islam, disediakan Allah SWT untuk membantu & memanfaatkan untuk penegakan agama,
d. Potensi Warisan Sejarah, 7 Abad kendali kejayaan umat Islam, peradaban barat baru 450 th,
e. Janji Allah SWT, bahwa Khilafah akan diberikan Allah SWT pada orang-orang beriman, shg jadi kewajiban umat Islam untuk berupaya sekuat tenaga menegakkan Khilafah.

PENDAHULUAN
Rangkuman definisi Jama’atul Muslimin ialah sekumpulan umat Islam-identik dgn masyarakat umum yang memilih para wakilnya di Majelis Syuro’/identik dengan Jama’atul Ulama /jama’ah ahlul aqdi wal hilli (para kumpulan ulama dalam sistem pemerintahan) di dalam umat yang menyepakati seorang amir untuk menjadi khalifah kaum Muslimin secara umum, dan umat pun mengikuti pendapat itu yang mempunyai kedudukan mulia dan luhur dalam syari’at Islam yang diperintahkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah untuk dijaga dan dipelihara, dilindungi kesatuannya dan dicegah dari setiap ancaman dan rongrongan yang merusaknya. Dan Jama’atul Muslimin pada masa sekarang tidak ada lagi di dunia, sehingga fardhu ‘ain untuk mewujudkannya sampai tegak kembali.

Bagian Pertama è Haikal Jama’atul Muslimin (Struktur Organisasi Jama’atul Muslimin)
Dalam bab ini, penjelasan secara konsepsional tentang pentingnya wujud jama’ah, mulai dari makna umat Islam, urgensi Syuro sebagai lambang tertinggi yang darinya lahir berbagai kebijaksanaan sebagai manifestasi political will umat Islam sehingga terwujud sebuah syuro berskala global yang akan menghasilkan Imamah (sistem kepemimpinan), yang mana bukan masalah siapa yang menjadi imam, bisa saja bukan keturunan Quraisy, asal memiliki kelayakan sebagai pemimpin umat.
Manakala kesatuan umat Islam dengan segala karakteristiknya telah terbentuk, ditambah adanya lembaga syuro yang berjalan dalam kerangka sebuah imamah, berarti pada saat itulah sebuah Jama’atul Muslimin telah eksis dengan segala makna hakikinya.
Tujuan Khusus Jama’atul Muslimin, meliputi pembentukan : Pribadi Muslim, Rumah Tangga Muslim, Masyarakat Muslim, dan Penyatuan Umat Islam. Sarana terpenting dalam mencapai tujuan khusus Jama’atul Muslimin ialah :
1. Wajib mengembalikan media, pengajaran, ekonomi dan alat-alat negara sesuai batas dan syari’at Islam
2. Menghancurkan semua unsur kemunafikan dan kefasikan dalam masyarakat
3. Mempersiapkan umat Islam sebaik-baiknya sesuai tuntutan jaman.
Sedangkan Tujuan Umumnya :
1. Supaya manusia mengabdi pada Rabb yang Maha Esa
2. Menjalankan prinsip Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
3. Menyampaikan dakwah Islam ke semua manusia
4. Menghapuskan fitnah dari seluruh dunia
5. Menaklukkan Roma, ibukota Italia
6. Memerangi semua manusia sehingga mereka bersaksi dengan kesaksian yang benar.
Sarana terpenting dalam mencapai tujuan Umum Jama’atul Muslimin ialah :
1. Menjelaskan prinsip-prinsip Islam ke berbagai Media
2. Menuntut semua manusia agar masuk Islam dan membatalkan semua agama sebelumya.
3. Menuntut semua negara agar tunduk pada ajaran-ajaran Islam
4. Mengumumkan jihad bersenjata sampai mencapai kemenangan.

Bagian Kedua èAth Thariq Ila Jama’atul Muslimin (Jalan Menuju Jama’atul Muslimin)
Pembahasan Al Ahkam Al Islamiyah (Hukum-Hukum Islam) ini sebagai upaya penegakan Jama’atul Muslimin, oleh karena pengarahan Rabbani dan Sunnah Nabawiyah telah diturunkan secara sempurna, sehingga setiap Muslim dan Jama’ah Islam dituntut untuk melaksanakan hukum Islam secara utuh tanpa ada pengurangan (sektoralisasi) sesuai dengan tuntutan keadaan dan posisinya dalam kehidupan dan perkembangan kehidupannya, dengan syarat harus meyakini semua hukum Islam melalui keterlibatan hukum Islam secara aktif yang menjadi bagiannya. Misal periode anak-anak berbeda dengan periode dewasa dalam penerapan hukum islam, begitu juga antara seorang dewasa yang belum atau sudah menikah. Hukum Islam dari segi hakikat dan caranya terbagi dua, yakni Substansi Hukum dan Cara Pelaksanaan Hukum (Kaifiyah).
Kesadaran akan pentingnya Jama’atul Muslimin disadari oleh Rasulullah SAW tidak mungkin bisa dilakukan oleh satu orang saja, tetapi memerlukan suatu jama’ah yang kuat yang akan diterapkan pada dirinya kemudian kepada segenap alam, hakikat ini pula yang harus dipahami oleh setiap da’i. Nabi Ibrahim AS pun menyadari hal ini, shg memohon pada Rabb-Nya agar dianugerahi penerus yg termasuk dlm golongan orang-orang yg Sholeh (Qs. Ash Shaffat : 100). Begitu juga dari kesepakatan para pemikir Islam abad ini, maka setiap Muslim yang menyadari kewajiban da’wah Islam atas dirinya dan ingin bergerak untuk dakwah ini, wajib menjadikan langkah pertamanya dalam kehidupan ini sebagaimana langkah Rasulullah SAW yakni mencari jama’ah dan mewujudkannya.
Klasifikasi para Da’i berkaitan dengan langkah pertama dimasa tiadanya Jama’atul Muslimin :
1. Kewajiban para Da’i di negara yang terdapat satu jama’ah è tidak dibenarkan mendirikan jama’ah baru, sehingga wajib bergabung ke dalam jama’ah tersebut.
2. Kewajiban para Da’i di negara yang terdapat beberapa jama’ah è sikap yang diambil para da’i ialah menimbang prinsip & pemikiran jama’ah yang ada dengan neraca Islam yang hanif, sehingga dapat diketahui mana jama’ah yang lebih dekat dengan Islam, maka kepada jama’ah tersebut para da’i Islam wajib bergabung.
3. Kewajiban para Da’i di negara yang belum ada jama’ah è mendirikan jama’ah yang sesuai dengan rambu-rambu Sirah Nabi SAW dalam menegakkan Jama’ah.

Bagian Ketiga è Rambu-rambu Sirah Nabi SAW dalam Menegakkan Jama’ah
Terbagi dalam 3 fase sarana rambu da’wah, yakni :
Rambu Pertama : Menyebarkan Prinsip-Prinsip Dakwah
A. Jalan Yang ditempuh dalam Penyebaran :
1. Kontak Pribadi (Ittishal Fardi) è Tahapan Sirriyah (rahasia) dalam da’wah :
Da’wah Islam perlu menempuh jalan ini dalam dua kondisi, yakni saat permulaan da’wah dan penegakkan jama’ah, dan saat pemerintah yang berkuasa melarang aktivitas da’wah.
2. Kontak Umum (Ittishal Jama’i) è Tahapan da’wah secara terang-terangan (Jahriyah):
a. Mengumpulkan Manusia dalam suatu jamuan makan di rumah Rasulullah SAW kemudian disampaikan prinsip-prinsip dakwah kepada mereka
b. Mengumpulkan Manusia di berbagai tempat, kemudian disampaikan risalah Allah.
c. Pergi ke tempat-tempat pertemuan Manusia dan disampaikan dakwah Allah
d. Pergi ke berbagai negara untuk menyampaikan dakwah
e. Mengirim surat kepada para Kepala Suku
B. Aspek Penataan (Tandzim) dalam Penyebaran Dakwah
1. Hendaknya menentukan prinsip yang akan dimulai penyebarannya sesuai kepentingan da’wah.
2. Membuat kesepakatan bersama orang yg telah menerima da’wah dan menyetujui prinsip yg di tentukan, agar setiap pribadi merekrut 1 orang dalam jangka waktu tertentu secara estafet.

Rambu Kedua : Pembentukan Da’wah
A. Pengertian TAKWIN (Pembentukan) :
Tindak lanjut dari kontak pribadi maupun jama’i, krn diantara manusia yg sudah mendapatkan penyebaran da’wah itu ada yg menerima dan meyakini da’wah dan ada pula yg menolak dasar-dasar da’wah, kemudian menShibghah mereka sesuai dgn kandungan pemikiran & ajaran da’wah, sebab hal ini termasuk dalam lingkup tarbiyah (Bina’/pembinaan) dan ta’lim (pembekalan keilmuan) sesuai dengan aqidah dan akhlak da’wah.
Adapun kelompok manusia yg menolak da’wah, status mereka tetap pada rambu pertama, shg hubungan da’wah dengan kelompok ini adalah tabligh dan indzar (pemberian peringatan) hingga Allah memberikan keputusan dan mengijinkan untuk melakukan konfrontasi dan menundukkan mereka kepada da’wah Islam (Qs. Al A’raf : 87).
B. Contoh Gerakan dlm Rambu ini merupakan penyempurna dan penyambung rambu pertama yg saling melengkapi. Jika berhenti pada rambu pertama (hanya melakukan tabligh & penyebaran), tidak mau beralih pada rambu kedua (takwin & bina’) bersama orang-orang yg telah menerima da’wah pada rambu pertama maka da’wahnya tidak sesuai manhaj Rasulullah SAW, diibaratkan spt orang yg buka kedua telapak tangan tuk minum air, tapi air tak sampai ke mulutnya (Qs. Ar Ra’d : 14),
C. Syi’ar Tahapan ini, Pengarahan Allah SWT dalam Qs. Al Kahfi : 28, ayat ini memerintahkan kepada Rasulullah SAW bersabar atas kekurangan dan kesalahan-kesalahan orang-orang yang menerima da’wah, bersabar atas banyaknya pertanyaan saat melakukan kesalahan, bersabar atas keraguan dalam menerima pengarahan, kemudian agar tekun berusaha meminta kesabaran mereka atas fitnah para musuh Allah, disamping menjelaskan karakteristik da’wah yang penuh kesulitan. Dan menghimbau agar tidak terpedaya oleh para penipu yang ingin menjauhkan dari para pengikut da’wah, jangan mendengar sisi negatif mereka, dan jangan sampai mengikuti orang yang sombong dan angkuh yang hatinya telah dilupakan Allah dari hakikat yang benar.
D. Sasaran Tahapan ini : (Qs. Al Jumu’ah : 2), Untuk mengubah akal yang ummi (jahalah) pada ilmu, hikmah dan ma’rifah ; mengubah moral dan perilakunya dari kesesatan dan kemerosotan pada kebersihan dan kesucian (tazkiyah).
E. Sisi Penataan (Tandzim) dlm pembinaan Jama’ah ada 3 tahapan {kontak pribadi/sirriyah (ittishal fardi), kontak umum (ittishal jama’i), gabungan keduanya}, Rasulullah SAW menempuh cara :
1. Takwin (Kaderisasi) dalam Tahapan Sirriyah :
Rasulullah SAW membagi orang-orang yang telah menerima da’wahnya (afrad/kader-kader) untuk ditakwin dalam beberapa kelompok kecil (khalaya /halaqoh) yang beranggotakan 3-5 orang lalu mengadakan pertemuan setiap hari/berkala pada tempat & waktu yg berlainan. Hal ini perlu dipikirkan secara matang cara tsb, mengingat di zaman sekarang dimana aparat dan perangkat intelijen yg mengintai Islam & umat Islam sangat maju, hingga tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia, baik dari segi jumlah, persiapan, program, kejahatan / jebakan mereka.
2. Takwin (Kaderisasi) pada Tahapan Terang-terangan (‘Alaniyah /Jahriyah), antara lain :
a. Membuat beberapa halaqah jama’iyah yg berjumlah besar, pada masa Rasulullah SAW telah berkumpul +/- 40 Orang di rumah Al Arqam bin Abil Arqam dekat Shafa.
b. Mengadakan perjalanan (rihlah) jama’iyah tertentu, yang pernah ditempuh oleh Rasulullah SAW pada saat hijrah Habasyah pertama dan kedua, tujuannya untuk menjauhi iklim kemusyrikan, menciptakan masyarakan Islami, mengkaji Al Qur’an dan menegakkan shalat.
c. Mengkondisikan situasi umum terhadap da’wah melalui khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah umum.
3. Takwin (Kaderisasi) pada Tahapan Sirriyah dan Terang-terangan (‘Alaniyah /Jahriyah) :
Rasulullah SAW melakukan dalam 2 cara yakni seperti yg dilakukan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq (tokoh Quraisy) dg mengajak teman-temannya utk menerima Islam scr terang-terangan, lalu melindungi & membela kaum tertindas dgn memerdekakannya, Kedua dilakukan scr sembunyi (sirriyah) pd sahabat yg tidak memiliki dukungan & kekuatan atas serangan & kekejaman musuh.

Rambu Ketiga : Konfrontasi Bersenjata terhadap Musuh Da’wah
A. Kedudukan Rambu ketiga terhadap rambu sebelumnya dan Pengertiannya; Penyebaran dakwah + manusia = penerima da’wah / penentang da’wah. Penerima da’wah dimasukkan dlm proses takwin, & para penentang da’wah dihadapi dengan kekuatan senjata setelah diletakkan hujjah pada mereka.
B. Menghadapi Penentang Da’wah dalam dua periode, Tidak dibenarkan melakukan konfrontasi selama jama’ah belum berhasil mencapai pemerintahan dan imamah, berarti ia masih dalam periode Makkiyah, sehingga harus berpegang teguh terhadap hukum-hukum (pergerakan) pada periode Makkiyah dari segi perdamaian dan larangan menggunakan kekuatan, tetapi diperbolehkan melancarkan perang gerilya dan serangan-serangan kecil setelah mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
C. Kapan diadakan Konfrontasi, Penentuan titik tolak melakukan konfrontasi melawan kebatilan adalah wewenang khusus pimpinan tertinggi jama’ah yang memegang kendali segala persoalan dan yang mengetahui segala informasi tentang kapasitas dan kesiapan front musuh, yakni :
1. Independensi Bumi Tempat Tegaknya Jama’ah, bahwa jama’ah harus berkuasa penuh thd bumi tempat berpijak & melancarkan aktivitasnya, shg yg harus dilakukan ialah Mencari Bumi (Basis Geografis) dlm Sirah Rasulullah SAW yg sesuai & memadai sbg pusat melancarkan jihad bersenjata, disamping mencari orang-orang yg dapat membelanya dalam jihad tersebut.
2. Jumlah yg Memadai, maksudnya anggota (tentara) yg bertempur hendaknya mencapai jumlah /prosentase tertentu dibandingkan tentara musuh, berdasarkan nash yg syar’i, hal ini dijelaskan dalam Qs. Al Anfaal : 65-66.

Rasulullah SAW telah mencanangkan tiga faktor penting perlindungan jama’ah yg melindungi Jama’ah dr makar musuh dan mengurangi berbagai hambatan bagi para anggota jama’ah, yaitu :
Rambu Keempat : Sirriyah dalam Kerja Membina Jama’ah, Bahwa Sirriyah (Kitman / kerahasiaan) merupakan ‘kotak’ tempat menyimpan program amal jama’i & tirai yg menutupi & melindungi program tsb sbg prinsip terpenting & hrus dipegang teguh sepanjang gerakan pembinaan jama’ah terutama pd tahapan awal yg akan melindungi amal jama’i dr intaian mata-mata musuh yg senantiasa mengawasi.
Rambu Kelima : Bersabar atas Gangguan Musuh, Hendaknya para da’i memperhatikan faktor keimanan yang terpenting dalam tahapan takwin ini adalah kesabaran seluruh anggota jama’ah dan keberhasilan meredam emosi dalam menghadapi setiap gangguan dan ejekan musuh, sehingga jama’ah menjadi terpelihara dan akhirnya tercapai kemenangan bagi Islam dan kaum Muslimin.
Rambu Keenam:Menghindari Medan Pertempuran, Dg cara melakukan hijrah, shg dpt memelihara anggota jama’ah (baik yg kuat, yg lemah, yg tidak memiliki pembela /yg memiliki pembela) dr kekejaman musuh & meloloskan jama’ah dr penghancuran & pemberangusan.

Bagian Keempat è Tabi’at Jalan Menuju Jama’atul Muslimin
A. Memahami Tabi’at Jalan, Berupa Jalan Ujian dan Cobaan, dijelaskan dalam Qs. Al Baqarah : 214, Qs. Ali Imran:142, Qs. At Taubah: 16, Qs. Al Ankaabut : 2-3. Sisi lain tabiat jalan kaum Muslimin yakni : Jalan Kemenangan & Kekuasaan, yg penuh kelimpahan nikmat berupa harta, keluarga & pengikut, tetapi sangat dikhawatirkan bahayanya karena akan menimbulkan keterpedayaan (ghurur),shg Umat Islam merasa berat tuk bergerak, lebih tertarik pada duniawi, kemewahan & kenikmatan materi, akhirnya berjatuhan di tengah perjalanan dunia yg semu & sekejap.
B. Macam-macam Tabiat Jalan, dapat disimpulkan menjadi dua yakni kebaikan dan keburukan, seperti disebutkan dalam Qs. Al Anbiya : 35
C. Tujuan Tabiat Jalan, yakni mengantarkan manusia kepada kualitas kerja terbaik dan Allah membuatkan penapis (penyaring) antara yang baik dan buruk ini dengan adanya ibtila’ (Ujian dan Cobaan), shg pergerakan manusia di atas bumi ini pun menjadi baik. Tidak mungkin dapat mengetahui tangan-tangan yang layak telah digembleng (sbg tujuan dari tabiat jalan) dengan tarbiyah yang dikehendaki Allah setelah melalui berbagai ujian saringan.
D. Tabiat Jalan ; Salah Satu Sunnatullah yang berlaku pada jama’ah untuk menyeleksi amal-amalnya, membersihkan barisannya dan menjauhkan kerapuhan dari bangunannya.
E. Contoh-contoh Tabiat Jalan :
1. Contoh sebelum Kenabian: kisah kedua anak Adam As, Kisah seorang Mu’min-Habib an Najjar, Kisah Ashabul Ukhdud.
2. Contoh dimasa Kenabian: gangguan Musyrikin & Bujuk rayu kaum Musyrikin pada Nabi SAW.
3. Contoh Gangguan Kaum Musyrikin pada Para Sahabat.
4. Peristiwa yang menimpa Umat Islam setelah hancurnya Khilafah.

F. Jama’ah-jama’ah Terpenting yang Aktif di Medan Da’wah Islam, Perjuangan Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, dalam dua bentuk :
1. Perjuangan Individual, seruan ulama untuk membentuk khilafah Islamiyah melalui khutbah, media dan menulis buku.
2. Perjuangan Kolektif (Amal Jama’i) terbagi dalam beberapa bagian :
a. Kelompok yg Tujuannya Menegakkan Khilafah, serta merancang strategi utk meraih tujuan, contoh : Hizbut Tahrir (Suriah & Yordania), Ikhwanul Muslimin (Mesir, Sudan, & negara lainnya), Masyumi (Indonesia), Jama’at Islami (India & Pakistan), Fidaiyyan Islam (Iran).
b. Kelompok yg Tujuannya dakwah sosial, budaya dan sufi, Contoh dakwah sosial dan budaya : Anshar as Sunnah & Jam’iyyah Syar’iyyah (Mesir). Dakwah Sufi : Jama’ah Tabligh, Al Mahdiyyah (Sudan), As Sanusiyah (Maroko & Hijaz).

Dilihat dr sisi keterbatasan & totalitas berda’wah, kelompok yg masih bertahan & terus berda’wah terbagi dua bagian :
1. Akibat beberapa kondisi telah merubah arah da’wah mjd aliran tertentu yg merupakan aliran yang dominan dikalangan umat Islam, yakni :
a. JAMA’AH ANSHAR AS SUNNAH AL MUHAMMADIYAH (JASM)
Merupakan ALIRAN SALAFI dlm Umat, didirikan pd 1345 H/1926 M di Kairo oleh Syaikh Muhammad Hamid al Faqi.
Tujuan JASM mengajak manusia kepada tauhid murni dgn keterbatasan sarananya pd satu fase dari fase da’wah Rasulullah SAW (yakni menyebarkan da’wah dg khotbah, ceramah, menawarkan da’wah pada suku-suku, mengirim surat pada penguasa, dll) yg berarti telah menjauhi strategi jalan yg benar dlm berda’wah ada dua faktor, yakni : pertama è Lapangan perjuangan JASM dibatasi negara (dlm AD/ART di-sebutkan bahwa Medan Amal Jama’ah adalah pelayanan agama, budaya dan bantuan sosial), tak boleh terlibat & debat dlm urusan politik /menyentuh aqidah agama penduduk lainnya, kedua è adanya ikatan dr negara shg Menteri Sosial berhak menetapkan orang-orang tertentu dlm administrasi yayasan sbg pegawai sesuai keinginan Kementrian Sosial. Hal inilah yg bertentangan dg ajaran Islam, sebab Muslim tidak boleh menyatakan kesetiaannya pd Non Muslim.
Kritik yg dipaparkan oleh Dr. Shadiq Amin (dlm buku Da’wah Islamiyah) menyebutkan: JASM tidak mencerminkan gerakan yg memiliki sistem dlm pendidikan, pembinaan & strategi, tidak memiliki tujuan berjangka tertentu, tidak adanya ikatan organisasi antara anggota satu & lainnya, hanya terbatas pd sekelompok kecil orang yg komit trhadap agama (mutadayyinin), tenaga JASM habis terkuras dlm debat sengit seputar masalah furu’ (pdhl dimasa sekarang hal itu tak banyak memberi kemaslahatan bagi umat), serta pandangan mereka bahwa sistem & organisasi, bai’at pada imam/amir merupakan bid’ah modern yang tidak berdasar. Penilaian atas jama’ah in berdasarkan kajian mendalam & interaksi penulis dgn tokoh-tokoh mereka.

b. ALIRAN POLITIK – diwakili oleh HIZBUT TAHRIR (Gerakan Pembebas)
HT didirikan di Yordania oleh Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, alumnus Al Azhar. Kemudian membuka cabang di Lebanon pada 19 Syawal 1378 H/28 April 1959.
Tujuan HT yakni Memulai Kehidupan Islami, Mengemban Da’wah Islamiyah, & Rekonstruksi Masyarakat berdasar Asas-asas Baru yg sesuai dg Dustur (Undang-undang) HT, dlm hal ini HT hanya membatasi pencapaian tujuannya pd negeri Arab saja.
Sarana HT utk mencapai tujuan dgn memegang kendali pemerintahan lewat umat menuju kekuasaan dg jihad secara politis dibalik urutannya, justru menjadi yg pertama dan satu-satunya, shg mengabaikan arahan Rasulullah SAW.
Prinsip & Pemikiran HT dlm Aspek Aqidah dlm buku al Iman  Islam dibangun dg aqidah atas dasar akal sejauh ia dpt menjangkaunya/melalui sumber yg menurut akal sangat kuat, seperti Al Qur’an dan Hadits Mutawatir. Dari Aspek Pengamalan Hukum Islam, HT tdk memandang pelaksanaan amal (dr da’wah, sholat, puasa dan hukum lainnya), karena ini termasuk tugas negara dan tidak perlu amar ma’ruf nahi munkar. Sedangkan Aspek Moral & Pendidikan, HT tidak memberi perhatian utama pada akhlak utama / meningkatkan pendidikan & keilmuan umat, shg HT ialah partai politik yg bergelut dg politik & menyatakan bahwa umat tidak akan bangkit dg akhlak, ttp dg aqidah yg dipeluknya, dg pemikiran yg dibawanya dan dengan sistem yang diterapkannya. Kemudian Aspek Fiqh yg dimuat dlm ensiklopedi 3 jilid, Dr. Shadiq Amin memberi ringkasan sbb : kewajiban sholat gugur bagi Muslim yg berada diangkasa luar, di kutub utara & selatan; pidana penjara 10 th diberlakukan bagi orang yg berzina dg salah satu mahramnya (spt ibu, adik, kakak).
Adapun Aspek Politik HT memiliki banyak visi ttg persoalan politik kontemporer, diantaranya, menumbuhkan Multi Partai dlm Negara Islam utk mengontrol pemerintahan; tugas pemerintahan dalam Islam yakni melaksanakan semua hukum Islam sesuai dg Kitab & Sunnah shg Pemerntah tdk berhak merancang/menetapkan undang-undang sendiri; Majelis Syuro sbg puncak tokoh umat yg kredibel, orang kafir tidak boleh menjadi anggota; Tugas Pria sbg pemimpin-krn memiliki ketajaman akal & kedalaman berpikir, konsentrasi bekerja—sedangkan Wanita tidak diperbolehkan mjd anggota majelis Syuro, sebagai pengasuh tunas bangsa di rumah tangga-tidak diperkenankan keluar rumah utk konsentrasi bekerja krn bs berakibat sendi-sendi keluarga Islam akan roboh.
HT mrpkn kelompok politik yg berideologi Islam, bkn organisasi kerohanian (spt tarekat), bkn lembaga ilmiah (spt lembaga studi agama/badan penelitian), bkn lembaga pendidikan (akademis), bkn lembaga sosial, dan ide Islam mjd inti, jiwa, sekaligus rahasia kelangsungan kelompoknya yg membimbing umat utk mendirikan & menegakkan Khilafah.
HT mengemban dakwah Islam denga Aqidah Islamiyah yg dijadikan dasar negara dan dasar konstitusi serta undang-undang, karena Aqidah Islamiyah adalah Aqidah Aqliyah (Aqidah yg mjd dasar pemikiran) dan aqidah Siyasiyah (Aqidah yg mjd dasar politik yg melahirkan aturan utk memecahkan problematika (politik, ekonomi, sosial, budaya, dll) secara keseluruhan, shg kegiatan politik ini tampak dlm aspek pergolakan politik (Ash Shiro’ul fikri) & dlm perjuangan politiknya (al Kifahus Siyasi).
Cara mengikat individu ke dlm jama’ah HT adalah dg memeluk Aqidah Islamiyah, matang dlm Tsaqafaah HT, setelah sebelumnya turut terlibat/berinteraksi melalui ide-ide dan pendapat-pendapat HT, shg individu tsb yg memutuskan sendiri utk bergabung dg HT.

c. DA’WAH SUFFIYAH – diwakili oleh Al Mahdiyyah / JAMA’AH TABLIGH
JT didirikan di India (Saharanpur) oleh Muhammad Ilyas bin Syaikh Muhammad Ismail, bermadzhab Hanafi, Dyupandi, Tarikat Jisytiyah, al Kandahlawi, setelah ia mendapat ilham dr mimpinya ttg tafsir Qs. Ali Imran : 10 (Kamu adalah Umat terbaik…) yg menurut pendapatnya adalah hendaknya kamu keluar untuk wisata & menyampaikan da’wah pd manusia.
Pemikiran Ajaran JT ini mengharuskan taklid pd ulama salaf; tasawuf utk mendekat-kan diri pdNya; tak perlu Nahi Munkar-fase mewujudkan iklim yg kondusif bagi umat utk masuk dlm jama’ah; melarang para anggotanya utk memperluas ilmu dan mendalami aliran-aliran filsafat; memisahkan agama & politik, tidak wajib utk berda’wah di tempat tinggalnya-namun wajib berda’wah ke kota lain; memusuhi tokoh-tokoh diluar JT.
Prinsip & Tujuan JT, Kalimah Thayyibah; Mendirikan Sholat; Ilmu & Dzikir; Memulia-kan setiap Muslim; Ikhlas; Berjuang di Jalan Allah. Sedangkan sarana JT dlm meraih tujuan: Nasihat & Arahan (menyisihkan waktu utk ceramah & memberi nasihat utk jama’ah & yg hadir dlm Masjid dg penentuan waktu);Rihlah (Perjalanan) & Siyahah (Wisata) dg membentuk kelompok (Kafilah Tabligh) yg menentukan Amir (Pemimpin Kelompok) kmdn berangkat menuju kesuatu daerah utk berdiam diri di masjid / menyewa tempat lalu mengadakan pembagian tugas (bagian ceramah & pemberi nasihat, yg kedua membersihkan tempat yg didiami kafilah, bertugas keliling rumah penduduk & meminta mendengarkan nasihat)
Sumber keuangan JT bergantung pd para anggota yg menyambut da’wah, setiap orang menanggung biaya perjalanannya & konsumsinya, krn JT tidak memiliki perangkat utk mengatur & menata harta JT, shg sumbangan yg masuk tdk mengikat JT & para donaturnya.
Sejumlah prinsip, tujuan, sasaran, ajaran, sarana, dan pemikiran JT bertentangan dg ajaran Islam, shg perkaranya tertolak & amalnya rusak, contoh : Upaya Taklid bertentangan dg Ittiba’; pengharaman ijtihad bertentangan dg hukum kontemporer di masa mendatang; nahi mungkar dianggap hal yg terlarang bertentangan dg perintah & larangan dlm Kitab & As Sunnah; Adanya larangan mencari & memperdalam ilmu filsafat; larangan untuk terjun ke dunia politik bertentangan dg hukum & kewajiban agama.

Catatan : Metode Jama’ah-jama’ah yg menetapkan tujuan & sarana yg parsial (setengah-setengah) dr ajaran Islam sesungguhnya telah bertindak memilah-milah (tab’idh) hukum-hukum Islam dan hal itu tertolak dalam agama, shg harus diperbaiki kembali metodenya sesuai dg prinsip yg mencakup Islam & keluasan ajarannya meskipun da’wah Islam berada pada kondisi penuh ujian & cobaan. Oleh karena itu ketika seorang da’i memilih jama’ah, haruslah memilih jama’ah yg tidak memilah ajaran-ajaran agama secara parsial sesuai dg apa yg dibenci / disukai penguasa, tetapi memilih jama’ah yg mengemban agama scr totalitas, menerobos segala rintangan dan kesulitan yang menghadang dan wajib memberikan kesetiaan & dukungan pada jama’ah yg mempunyai tujuan menyeluruh mencakup seluruh tujuan agama Islam, menggunakan sarananya dg apa yg digariskan oleh Allah utk mencapai tujuan berkala yg dikaji scr mendalam & sesuai dg langkah da’wah Rasulullah SAW ketika ditetapkan utk mengembalikan manusia kepada Allah.

2. Kelompok kedua berupaya mencakup seluruh aliran yang dominan di kalangan umat Islam disamping tetap menyeru pd ASPEK POLITIK UNTUK TEGAKNYA KHILAFAH ISLAMIYAH juga merupakan ALIRAN SUFI DALAM ASPEK PENYUCIAN JIWA & ALIRAN SALAFIYYAH DALAM ASPEK TUNTUTAN UNTUK KEMBALI PADA KITAB DAN AS SUNNAH sebagai TOTALITAS ISLAM secara umum – diwakili oleh Jama’at Islami (India & Pakistan) yang didirikan oleh Abul ‘Alaa al Maududi, Masyumi (di kepulauan Khatulistiwa), Fidaiyyan Islam (Iran), JAMA’AH IKHWANUL MUSLIMIN (di Dunia Arab).

JAMA’AH IKHWANUL MUSLIMIN (JIM)
A. Sejarah JIM:JIM didirikan pd bln Dzul Qa’idah 1347 H / Maret 1928 M di kota Isma’iliyah, setelah tjd pertemuan dirumah pendiri & mursyid JIM yg pertama-Syaikh Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al Banna (Lahir Oktober 1906 di distrik Mahmudiyah Buhayrah, syahid pd 12 Februari 1949), pertemuan itu dihadiri oleh 6 tokoh IM {Abdurrahman Hasbullah (sopir), Ahmad Al-Khushari (tukang cukur), Zakki al-Maghribi (penjahit), Hafizh Abdul Hamid (tukang kayu), Fuad Ibrahim, Ismail Izz}, mereka saling memba’iat utk hidup bersaudara & berjuang utk Islam
B. Kehidupan Pendiri JIM, Syaikh Hasan Al Banna adl sosok yg berkharisma & tampak kejeniusan dlm sisi kepribadian seorg da’i, pendidik, pembaharu & pemimpin yg mana kecintaan hidupnya terpusat pd da’wah, serta pengaruh yg begitu kuat pd sahabat & murid2nya membedakan beliau dg para pemimpin terdahulu, shg kesuksesan nan gemilang ada didlm pembinaan & produktivitas. Beliaulah pembangun generasi pendidik serta pemilik ‘madrasah’ ilmiah, pemikiran & akhlak.
C. Struktur Organisasi JIM : Dewan Pendiri (Hai’ah Ta’sisiyah)Mursyid ‘Am Maktab al Irsyad al ‘Am dikantor pusat (12 orang:9orang dari kairo sbg wakil, sekjen, bendahara-3 orang sisanya dr daerah lain) => Maktab Idari(Dewan Administrasi)=> Wilayah => Syu’bah/Cabang (ketua Syu’bah) dipilih dr Maktab al Isryad) => Usrah (unit terkecil yg membentuk JIM, terdiri atas 5 orang yg dipimpin seorang Naqib.
D. Tujuan JIM : Membangun Kepribadian Muslim, Membentuk & Membina Keluarga Muslim, Membina Masyarakat Muslim, Membebaskan Negeri dr setiap penguasa asing, Memperbaiki Pemerintahan, Mengembalikan Eksistensi Internasional bagi Umat Islam, Menjadi Guru Dunia dgn Menyebarkan Da’wah Islam keseluruh penjuru.
E. Sarana JIM : Imam yg Mendalam, Pembentukan yg Cermat dan Amal yg berKesinambungan.
F. Rukun Bai’at dlm Jama’ah : Kefahaman, Ikhlas, Amal, Jihad, Pengorbanan, Ta’at, KeTeguhan, Tajarrud, Persaudaraan, Percaya Sepenuhnya.
G. Karakteristik Khusus Da’wah Ikhwan yg membedakan JIM dg Jama’ah Islam Kontemporer :
1. Rabbaniyah, sebab tujuannya agar terwujud kedekatan dg ALLAH SWT.
2. Universal, krn da’wah JIM diarahkan pd seluruh Umat Manusia,
3. Islamiah, sebab berafiliasi pd Islam sbg karakteristik yg utama,
4. Komprehensif, mencakup seluruh aliran kontemporer utk aspek reformasi/perbaikan,
5. Membebaskan loyalitas dr pemerintahan & partai politik yg tdk beraffiliasi pd Islam,
6. Menjauhi wilayah perselisihan fiqh, krn adanya perbedaan masalah furu’ akibat perbedaan akal manusia dlm memahami Nash,
7. Menjauhkan diri dr kooptasi para tokoh & elit, krn mereka berpaling dr da’wah,
8. Bertahap dl melangkah (ada 3 fase tahapan da’wah:pengenalan, pembentukan, pelaksanaan)
9. Mengutamakan Aspek Amaliah,
10. Sambutan Luas dr para pemuda,
11. Cepat Tersebar ke segala penjuru
H. Faktor Keberhasilan JIM, krn menyeru dg seruan Allah yg paling tinggi, menyerukan fikrah Islam yg paling kuat, mempersembahkan pd manusia Syari’at yg adil yakni Al Qur’an, krn manusia butuh ketiga hal tsb utk kebahagiaan dan kesengsaraan manusia.
I. Sendi-sendi Da’wah JIM & sarananya : utk mewujudkan sendi ILMU dibutuhkan Halaqah, sendi TARBIYAH butuh Usroh Takwin, sendi JIHAD butuh Usroh ‘Amali.
J. Sendi Usrah dlm JIM : Ta’aruf, Tafahum & Takaful.
K. Kewajiban & Syarat Keanggotaan JIM berbeda sesuai tingkatan : Nashir, Munaffid (Mujahid), & Naqib (Na’ib & Warits), tahapan terarah tsb menunjukkan kematangan & kecakapan kepemimpi-nan dlm mengenal karakter jiwa sbg suatu hal yg sunatullah dlm penciptaan manusia, berTahap.
L. Usaha JIM : dlm bidang Sosial, Pertanian, Olahraga, Kepanduan (Ilmiah & Pendidikan, Tsaqafah Islamiyah{buku-buku, Pers, kajian}), KeWanitaan, Ekonomi, Kesehatan.
M. Al ikhwan & Politik, jk ada yg mengatakan da’wah JIM adalah politik, mk JIM menyeru bahwa Al Qur’an & As Sunnah dlm genggaman, amal salaf yg saleh dr umat adalah teladan, jk menyeru pd Islam (hukum & petunjuknya) disebut politik, maka inilah politik JIM.
N. Kesimpulan atas JIM  JIM adl jama’ah yg memperjuangkan Islam yg sesuai tujuan, sarana, & bertahap yg senantiasa berkembang dlm strategi amaliahnya dg berpedoman pd Kitab & Sunnah.

Adapun KRITIK atas JIM  JIM menetapkan fase konfrontasi dg kebatilan sebelum menetap-kan pilihan belahan bumi tempat berpijak, shg banyak tokoh yg dibunuh & harta JIM dirampas ; Terlalu percaya & berprasangka baik pd kepemimpinan lain, pdhl bs diambil alih.(Wallahu A’lam)

2 responses to “Resensi Buku : Menuju Jama’atul Muslimin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s